Menu

Mode Gelap

Inspirasi · 16 Feb 2022 18:32 WIB

Dari TNI Menjadi Petani


 Nari (55) Purnawirawan TNI sedang meladang di sawah miliknya. Perbesar

Nari (55) Purnawirawan TNI sedang meladang di sawah miliknya.

HALONIAGA.COM, Pulang Pisau – Memilih hidup menjadi seorang petani tentu bukan hal mudah. Karena semua itu dibutuhkan kedisiplinan, kesabaran dan harus bisa memahami kondisi alam. Namun bagi Nari (55) semua itu bukan hal yang sulit, untuk dilaluinya. Karena hal tersebut sudah dimiliki didalam jiwannya.

Nari merupakan seorang Purnawirawan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Sejak 1 januari 2021 masa tugas pengabdiannya selama 32 tahun sudah resmi berakhir. Untuk saat ini dia memilih berprofesi sebagai petani padi, yang ada di Desa Belanti Siam, Kecamatan Pandih Batu, Kabupaten Pulang Pisau.

Sebelum menjadi seorang TNI, dia dibesarkan dari keluarga tani. Semasa kecil hidupnya, sering menghabiskan waktu membantu kedua orang tuanya disawah. Namun tidak menyurutkan hatinya ingin menjadi TNI.

“35 tahun yang lalu, memang orang tua saya transmigrasi. Di tahun 1982 sampai 1987 saya sekolah dan lulus sekolah saya daftar ABRI saat itu masih ABRI ya. Yang mengantarkan saya mendaftar itu Kepala Desa yang lama, kemudian didukung oleh seluruh guru-guru SD di Jawa. Lulusan SD Mojokerto tahun 1983,” tutur Nari.

Nari menuturkan, di awal menjadi prajurit TNI dirinya mengikuti pendidikan di Gunung Kupang, Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Selesai perguruan tersebut, dia terpilih dan diambil di Kostrad Cilodong 4 divisi 1 bersama 20 orang termasuk dirinya. Kemudian ditempatkan pasukan 515 Kostrad Kecamatan Tanggul Jember Jawa Timur selama 26 tahun. Di pertengahan bulan Juli 2012, dipindah di Kesatuan Teritorial jajaran Kodam 5, Kodim Blitar, sampai menjadi Purnawirawan.

“Saya dinas terakhir di Kodim Blitar Jawa Timur. Jabatan gelar terakhir Sersan Satu (Sertu). Saya 1 Januari 2020 Masa Persiapan Pensiun (MPP). Pensiun penuhnya 1 Januari 2021. 32 tahun masa pengabdian. Pada tanggal 13 Januari 2020 saya sudah berada di Blanti Siam. Sampai sekarang focus ke tani, jadi focus ke tani. Jadi titik beratnya adalah membantu orang tua . Titik beratnya membatu orang tua sampai sekarang ini,” ungkap Nari.

“Kemudian kenapa saya setelah Purna memilih menjadi petani karena saya. Karena latar belakang keluarga saya petani, dari orang transmigrasi,” ungkapnya.

“Jadi kenapa saya tidak ikut teman-teman dengan pekerjaan yang lain saya lebih memilih menjadi petani, karena saya masih Wira Wiri keluar ke Jawa. Karena petani itu tidak terikat waktunya dalam pekerjaan,” tandasnya kembali.

Dia pun mengharapkan, supaya para petani di seluruh Indonesia tidak diabaikan oleh pemerintah. “Jadi sedikit-sedikit tidak mendatangkan atau impor untuk memenuhi ketahanan pangan. Tetapi manfaatkanlah petani yang ada di Indonesia ini. Petani Indonesia mampu untuk mencukupi asal tidak dimain-mainkan politik. Jadi petani jangan dibawa ke politik,”tutup Nari (55). (sam)

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pebisnis Indonesia Berjuluk ‘Raja Minyak’, Arifin Panigoro Meninggal Dunia

28 February 2022 - 08:33 WIB

arifin

Dari Sales, ‘Cak Mangun’ Sukses Dirikan Warung Bebek di Probolinggo

24 February 2022 - 19:37 WIB

cak mangun

Mengenal Arief Rosyid, Alumnus Kedokteran Unhas yang Kini Menjabat Komisaris Termuda di BSI

24 February 2022 - 09:54 WIB

arief rosyid

Melihat Bisnis Lukisan Tas Purun di Banjarbaru yang Potensial

21 February 2022 - 20:08 WIB

kreasi lukisan

Inovasi Sujarwo, Kawin Silang Tanaman Keladi Berbuah Manis

18 February 2022 - 12:31 WIB

tanaman hias

Keren, Kaligrafi Karya Pemuda Tulungagung Ini Tembus Pasar Dunia

17 February 2022 - 08:19 WIB

kaligrafi
Trending di Inspirasi