Menu

Mode Gelap

Inspirasi · 21 Feb 2022 20:08 WIB

Melihat Bisnis Lukisan Tas Purun di Banjarbaru yang Potensial


 Salah satu hasil kreasi lukisan tas purun di Banjarbaru, Kalimantan Selatan Perbesar

Salah satu hasil kreasi lukisan tas purun di Banjarbaru, Kalimantan Selatan

HALONIAGA, Banjarbaru – Membangun usaha tidak harus dengan modal besar. Agar bisa menghasilkan produk yang diinginkan, diperlukan juga sebuah inovasi dan kreatifitas. Seperti yang dilakukan seorang ibu rumah tangga Melati Yusuf (37) asal Kelurahan Sungai Besar, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Berawal dari keahliannya melukis yang dimilikinya sejak masa kuliah hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu, dengan melihat kebutuhan pasar, dirinya mencoba membuat lukisan diatas anyaman tas rajut yang terbuat dari bahan purun.

“Awalnya di tahun 2020 yang lalu, ada teman meminta dibuatkan lukisan di tas anyaman purun. Karena sebelumnya, memang belum pernah mencoba melukis di media tas purun, jadi saya buatkan lukisannya dan ternyata hasilnya lucu juga,” ucap Melati Yusuf.

“Dari situlah saya mulai mencari pengrajin tas yang bisa diajak kerja sama buat produksi tas-tasnya,” ucapnya.

Ia mengatakan, untuk kerjasama secara langsung memang tidak, dalam artian dirinya hanya memesan dan membeli tas anyaman tersebut dari para pengrajin yang ada. Selain itu juga secara tidak langsung bisa membantu usaha mereka.

Pasalnya, lanjut Melati Yusuf, bahwa di daerah Banjarbaru merupakan sentral pengrajin tas anyaman purun. Hanya disayangkan untuk saat ini masih belum terangkat dan dikenal luas oleh masyarakat.

Mantan Walikota Banjarbaru sudah menjadikan daerah tersebut menjadi Kampung Purun yang ada di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Dengan tujuan bisa dijadikan tempat Destinasi Wisata kampung Purun. Selain itu, kampung tersebut memiliki banyak kelompok pengrajin purun.

“Jadi dari situ saya membantu dengan membeli bahan tas di kampung tersebut, selain dengan tujuan menjual kerajinan tas lukis, saya juga membantu mereka dengan finishing hasilnya melalui desain lukis tas itu,” ungkap Melati Yusuf.

“Nanti pengrajin membuat desain dengan model yang baru. Sesuai dari permintaan saya. Biar para generasi muda khususnya bisa tertarik,” imbuhnya.

Ia menuturkan, sebelumnya di ditempat pengrajin itu, untuk pemesanan hanya beberapa model saja dan produknya sebatas kemampuan mereka. Mungkin dikarenakan kurangnya pelatihan. Setelah sering ada pesanan, sudah ada perkembangan, dari mulai produksi hingga sampai finishingnya.

“Untuk perkembangan di Kampung Palam saat ini para pengrajin sudah bagus, sudah lumayan. Memang di 2 tahun yang lalu masih sepi dan pesanan hanya terbatas, belum ada yang lain,” ujar Melati Yusuf.

“Selain itu juga karena sudah diangkat dengan pemerintah setempat sudah banyak yang terkenal dan juga banyak kreasi-kreasi dari tas itu, jadi banyak yang terkenal sekarang tidak cuma lukis,” ujarnya.

Ia menjelaskan untuk mengenalkan hasil tas lukisnya kepada masyarakat dengan cara membuat nama produknya yaitu Kaktus Artspace dan memasarkannya menggunakan media sosial sebagai sarana penjualan. Untuk awalnya hanya beberapa tas saja, seiring berjalannya waktu tergantung permintaan pasar. Dan untuk saat ini penjualan sudah sampai keluar daerah seperti Jawa dan Sulawesi.

Untuk proses pembuatannya, sambung Melati Yusuf, masih dengan cara manual yaitu dengan membuat sketsa terlebih dahulu. Setelah itu baru dibuat gambar lukisannya. Gambar desainnya juga bisa dari permintaan pemesan. Namun dalam pengerjaannya itu harus minim salah. Karena berbeda dengan melukis di kain kanvas. Jadi kalau salah dan di hapus tidak bisa.

“Biasanya si proses pembuatannya satu minggu proses pembuatan. Karena kalau sebelum ada pesanan yang masuk ada pesanan yang lain-lainkan. Jadi satu hari bisa sampai 5 tas. Kalau misalnya tas agak besar dalam 1 hari pengerjaan 2 sampai 3 tas dalam 1 hari. Karena butuh di keringkan dan finishing,” kata Melati Yusuf.

Ia mengungkapkan untuk penghasilan yang didapat cukup lumayan. Hal tersebut tergantung dari permintaan pemesan. Harga tas yang dijual dibandrol Rp.175.000 rupiah sampai Rp. 250.000 rupiah untuk harga tas yang sudah jadi yang sudah berbentuk dalam lukisan. Tergantung ukuran tas dan model gambarnya. Untuk bahannya dari pengrajin Rp.60.000 rupiah sampai Rp.100.000 rupiah harga satu tasnya dan itu untuk membantu pengrajin juga.

Selain itu juga ia berharap dengan adanya tas purun tersebut bisa mengenalkan ayaman lokal kepada masyarakat luas. “Jadi kita harusnya bangga mempunyai pengrajin tas purun ini. Jika kita lihat kalau di Bali aja sudah banyak. Dan kebanyakan yang di Bali ngambilnya dari kita sini untuk tas bahan bakunya itu,” katanya.

Semoga tas purun ini, lanjutnya, bisa menjadi trend mark kota Banjarbaru. Sehingga bisa di kenal banyak orang dan diterima di semua kalangan. Selain itu juga banyak anak muda khususnya yang mau memakainya.

Ia juga berencana mengadakan workshop untuk para generasi muda, yang ingin belajar melukis dari mulai pembuatan sampai siap jual. Namun karena Pandemi Covid-19 belum benar-benar berakhir jadi masih belum bisa dilakukan.

“Sebenarnya banyak yang minat. Kita juga akan melakukan kerja sama dengan Yayasan Perupa Kalimantan. Yang akan membantu untuk penjualannya untuk kreasi tas purun lukis. Cuma untuk kendalanya yang melukis baru saya sendiri, jadi belum bisa menghasilkan produksi yang banyak dan sekaligus. Makanya dengan adanya tujuan workshop itu produksinya bisa banyak,” pungkasnya. (Sam)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Genjot Sektor UMKM, Pusat Oleh-oleh di Probolinggo Kembali Dibuka

12 March 2022 - 18:13 WIB

Pusat oleh-oleh 'Bolinggo', di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur akan kembali beroperasi

Perluas Pasar, Petani dan UMKM Kopi Banyuwangi Bertemu 150 Buyer

9 March 2022 - 16:46 WIB

kopi bwi

Bertemu Ganjar Pranowo, Dubes Singapura Bahas Investasi

9 March 2022 - 16:43 WIB

ganjar

Kupat Tahu Pak Wardiman, Kuliner Legenda di Yogyakarta yang Dikelola Sejak Tahun 1990

9 March 2022 - 16:41 WIB

kupat

Potensi Besar, Pemkab Gresik Terus Promosikan Tanaman Hias Karangandong

6 March 2022 - 11:40 WIB

karangandong

Inovasi Perempuan Tuban, Pare Dijadikan Kripik hingga Produknya Dikenal Masyarakat

5 March 2022 - 18:52 WIB

kripik
Trending di Berita