Menu

Mode Gelap

Berita · 24 Feb 2022 11:25 WIB

Uang Digital Jadi ‘Anjlok’ Imbas Ketegangan Ukraina – Rusia


 ilustrasi mata uang digital Perbesar

ilustrasi mata uang digital

HALONIAGA.COM, London – Sejak selasa (22/02/2022) lalu, ketegangan Ukraina dan Rusia berimbas pada anjloknya mata uang digital. Bitcoin misalnya, merosot ke level US$ 36.370 yang membuat level terendah dalam lebih dari dua pekan.

Mata uang kripto terbesar di dunia itu kemudian berhasil mengurangi kerugiannya dan diperdagangkan melemah 3% dalam 24 jam menjadi US$ 37.495. Mata uang digital lainnya juga jatuh, di mana ethereum (ether) turun 4% dan XRP melemah 10%. Analis pun mengaitkan penurunan ini dengan meningkatnya ketegangan atas krisis Rusia-Ukraina.

Menurut laporan, Presiden Rusia Vladimir Putin pada Senin (21/02/2022) memerintahkan pasukan menuju ke dua wilayah di Ukraina timur yang memisahkan diri. Hal ini dilakukan beberapa saat setelah kedua wilayah, yakni Donetsk dan Luhansk menyatakan kemerdekaannya.

Langkah tersebut telah memicu kekhawatiran akan invasi besar- besaran, sekaligus mengirim saham global turun tajam karena keinginan besar para pedagang terhadap risiko ikut menurun.

“Bitcoin, dan kripto secara lebih umum, bergerak sejalan dengan indeks saham Asia semalam menyusul berita utama Rusia-Ukraina yang mendorong pergerakan harga. Pertama aksi jual saat Putin mengumumkan memerintahkan pasukan menuju Ukraina, kemudian bangkit kembali saat pasar memproses berita utama,” ungkap Chris Dick, pialang kuantitatif di pembuat pasar crypto yang berbasis di London, B2C2, kepada CNBC.

Bitcoin sering disebut-sebut oleh para pendukungnya sebagai aset safe haven, mirip dengan emas. Ini artinya bitcoin harus menjadi instrumen penyimpan nilai di saat ketidakpastian melanda. Namun, anggapan bitcoin sebagai semacam “emas digital” telah rusak karena lebih banyak investor institusional yang mulai memperdagangkannya.

Alhasil mata uang kripto tersebut menjadi lebih selaras dengan fluktuasi di pasar tradisional, seperti saham. Bitcoin sekarang jauh di bawah level tertinggi sepanjang masa di atas US$ 68.000, yang dicapai pada November 2021. Beberapa investor percaya, kondisi ini sama bagusnya dengan mata uang kripto untuk beberapa waktu.

Menurut Du Jun, salah satu pendiri pertukaran kripto Huobi, pasar bull bitcoin berikutnya tidak mungkin terjadi sampai paling cepat 2024. Pernyataan ini merujuk pada peristiwa “halving” berikut yang akan terjadi.

“Mengikuti siklus ini, tidak akan sampai akhir 2024 hingga awal 2025 kita dapat menyambut pasar bullish bitcoin berikutnya,” kata Du.

Bitcoin halving adalah kondisi ketika imbalan bagi penambang bitcoin (block reward) berkurang setengah setelah selesai menambang 210.000 blok. Hal ini untuk memverifikasi transaksi, yang mana secara efektif menekan pasokan koin baru yang diterbitkan. (drw dari sumber lain)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Berpotensi, Bumdes Terus Kembangkan Wisata Kuliner Ikan Asap Probolinggo

18 May 2022 - 21:29 WIB

Kota Batu Raih Gelar Terbaik III Duta Aksi Dalam Rakerda HIPMI Jatim 2022

18 May 2022 - 08:26 WIB

HIPMI Optimis, UMKM di Jatim Tahun Depan Tembus Pasar Ekspor

16 May 2022 - 13:35 WIB

DEFEND ID Tebar 3000 Paket Sembako kepada Warga Bandung dan Subang

27 April 2022 - 13:04 WIB

Holding BUMN Industri Pertahanan (Indhan) DEFEND ID saat menyalurkan 3000 paket sembako kepada warga masyarakat di Kota Bandung dan Subang

Libatkan Senayan City, Biznet Gelar Sentra Vaksinasi Booster Gratis

17 March 2022 - 20:32 WIB

Kerjasama BUM Desa Dan Investor Dipermudah Dengan Gandeng BKPM

14 March 2022 - 18:30 WIB

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) dan Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal saat MOU
Trending di Berita